Selasa, 26 Agustus 2014

Putih



       Sejak kecil aku memelihara hewan… aku masih ingat waktu kecil aku pernah memelihara ayam, bebek, burung dara, ikan lohan, ikan mujair, ikan mas, ikan-ikan hias seperti ikan mas koki, ikan sius, ikan sapu-sapu, hamster, dan seekor kucing kesayangan yang ku beri nama putih.

       Saat umurku 6 tahun orang tuaku mengajakku pindah ke Bogor segera setelah pembangunan rumah selesai. Pekerja bangunan di rumahku yang bernama wa Toing memberiku hadiah seekor kucing manis yang kuberi nama Putih. Sebenarnya putih itu kucing milik anaknya wa Toing, tapi karena kasihan melihatku terus bersedih semenjak tinggal di Bogor, kucing itu diberikan padaku. Putih itu berjenis kelamin laki-laki, bulunya berwarna putih bersih, berbeda dengan ekornya yang berwarna hitam, ada corak hitam sedikit di kepala dan kupingnya dan membuatnya terlihat cantik, matanya hijau terang. Sungguh senang jika melihatnya. Dia juga anak baik, tidak pernah macam-macam, tidak mencuri makanan, makanannya juga tidak pilih-pilih. Kata anaknya wa Toing Putih itu biasa dikasih makan nasi + kerupuk kalau dirumah. Awalnya setengah percaya juga sih sama ucapannya, tapi setelah dicoba sendiri dirumah ternyata memang putih suka. Awal-awal kepidahannya kerumahku, Putih masih suka pulang ke rumahnya yang lama sehabis main, rumah wa Toing. Meski telah berkali-kali di beritahu kalau rumahnya pindah, tetap saja ia masih suka pulang kesana. Akhirnya mama pun membujuk Putih dengan memberinya makan ikan tongkol. Lama-kelamaan iapun semakin biasa tinggal dirumah dan tidak pulang lagi kerumahnya yang lama. Putih, ia sangat suka sekali dicarikan kutu ditubuhnya saat siang hari. Kalau sudah begitu, Putih hanya akan tiduran dilantai dengan nyaman.
       
       Putih, aku sangat menyayanginya seperti adik kecilku sendiri. Meski begitu terkadang aku suka malas juga memberinya makan. Kadang, kegiatan disekolah, PR, dan kegiatan lainnya membuatku kelelahan dan melalaikan tugasku  untuk memberi makan Putih. Untungnya saja ada embahku yang juga saying kepadanya. Ia sangat rajin member makan Putih. Tak jarang ia juga sering mengajak Putih bermain.

        Pernah suatu hari saat aku kelas 4 M.I. putih pulang dengan keadaan basah kuyub karena hujan lebat. Aku menemukannya ditempat penyimpanan keset dibelakang rumah dan ia berlumuran darah. Saat itu aku masih tidak menyadarinya. Saat aku coba menggendongnya seperti biasa, Putih menolak. Tapi lama-kelamaan ia mau juga dan betapa terkejutnya aku melihat matanya bengkak dan mengeluarkan banyak darah. Ternyata darah di tubuhnya itu berasal dari matanya. Air mataku tak dapat kutahan lagi. Aku menangis dan memanggil orang rumah. Mama bilang kalau Putih sepertinya habis di jaili oleh orang atau matanya tertiban sesuatu yang berat. Embahku langsung megobati Putih, ia mengoleskan minyak kelapa di sekitar mata Putih.

         Aku menangis berhari-hari sampai mataku bengkak, aku juga mulai agak mogok makan dan mogok sekolah, namun itu semua tidak lama, hanya beberapa hari saja. Sungguh aku menyayangkan kejadian itu. Aku bahkan mendoakan hal-hal buruk terhadap orang yang telah menyakiti Putih.

       Hari pun berlalu. Mata Putih semakin membaik tidak bengkak seperti dulu. Tapi itu semua tidaklah lama. Bola mata putih copot. Sekarang putih kehilangan sebelah matanya. Itu sangat menyakitkan. Apalagi perlakuan dari orang yang memang tidak menyukainya. Mereka semakin menjadi-jadi dan selalu mengusir Putih. Aku sebal melihatnya. Memangnya kenapa? Apa mereka tidak kasihan melihat Putih dan malah menambah beban hidupnya?

        Putih sudah beumur 13 tahun. Saat itu aku sakit keras. Putih menemaniku, ia kucing yang amat setia. Namun entah mengapa aku merasa sangat sebal terhadapnya. Aku melemparinya dengan benda-benda yang berada didekatku jika ia mendekat. Namun entah mengapa Putih seperti selalu menjagaku. Ia tidur didekat kakiku atau pun diatas tubuhku. Entah mengapa meski saat itu aku sebal terhadapnya, ia masih mencintaiku.

        Kini aku telah sembuh dari penyakitku. Aku kembali bersekolah. Beberapa hari setelah aku sekolah, mama meeleponku. Aku merasa khawatir, karena tidak biasanya mama menghubungiku saat aku sedang berada disekolah. Saat pulang kerumah, mama baru memberitahuku kalau Putih sudah tiada. Ya ia menghembuskan nafas terakhirnya ketika aku masih berada disekolah.
Putih sekarat di kebun depan rumah tetanggaku, lalu dibawa mama kerumah dan di letakkan dibawah pohon bambu kecil depan rumahku. Tidak lama kemudian ia mati. R.I.P .

       Aku bingung dengan apa yang kurasakan saat itu. Aku sedih tapi aku tak dapat mengeluarkan air mataku. Badan putih sudah kaku, kini laler mulai dating ditubuhnya. Papa melapisinya dengan kain putih sebelum di kubur. Beberapa saat setelah itu aku baru menangis. Tangisku tak dapat berhenti.
Putih, jika kau sekarang berada di Surga, maukah kau memaafkanku? Sungguh aku menyesal…. Maafkan aku yang tak dapat menjagamu dengan baik. Semoga kau senang dan bahagia Putih… Peluk sayang kakakmu yang sangat menyayangimu dari sini….. Amelia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar