Sejak
kecil aku memelihara hewan… aku masih ingat waktu kecil aku pernah memelihara
ayam, bebek, burung dara, ikan lohan, ikan mujair, ikan mas, ikan-ikan hias
seperti ikan mas koki, ikan sius, ikan sapu-sapu, hamster, dan seekor kucing
kesayangan yang ku beri nama putih.
Saat
umurku 6 tahun orang tuaku mengajakku pindah ke Bogor segera setelah
pembangunan rumah selesai. Pekerja bangunan di rumahku yang bernama wa Toing
memberiku hadiah seekor kucing manis yang kuberi nama Putih. Sebenarnya putih itu
kucing milik anaknya wa Toing, tapi karena kasihan melihatku terus bersedih
semenjak tinggal di Bogor, kucing itu diberikan padaku. Putih itu berjenis
kelamin laki-laki, bulunya berwarna putih bersih, berbeda dengan ekornya yang
berwarna hitam, ada corak hitam sedikit di kepala dan kupingnya dan membuatnya
terlihat cantik, matanya hijau terang. Sungguh senang jika melihatnya. Dia juga
anak baik, tidak pernah macam-macam, tidak mencuri makanan, makanannya juga
tidak pilih-pilih. Kata anaknya wa Toing Putih itu biasa dikasih makan nasi +
kerupuk kalau dirumah. Awalnya setengah percaya juga sih sama ucapannya, tapi
setelah dicoba sendiri dirumah ternyata memang putih suka. Awal-awal
kepidahannya kerumahku, Putih masih suka pulang ke rumahnya yang lama sehabis
main, rumah wa Toing. Meski telah berkali-kali di beritahu kalau rumahnya
pindah, tetap saja ia masih suka pulang kesana. Akhirnya mama pun membujuk
Putih dengan memberinya makan ikan tongkol. Lama-kelamaan iapun semakin biasa
tinggal dirumah dan tidak pulang lagi kerumahnya yang lama. Putih, ia sangat
suka sekali dicarikan kutu ditubuhnya saat siang hari. Kalau sudah begitu,
Putih hanya akan tiduran dilantai dengan nyaman.
Putih,
aku sangat menyayanginya seperti adik kecilku sendiri. Meski begitu terkadang
aku suka malas juga memberinya makan. Kadang, kegiatan disekolah, PR, dan
kegiatan lainnya membuatku kelelahan dan melalaikan tugasku untuk memberi makan Putih. Untungnya saja ada
embahku yang juga saying kepadanya. Ia sangat rajin member makan Putih. Tak
jarang ia juga sering mengajak Putih bermain.
Pernah
suatu hari saat aku kelas 4 M.I. putih pulang dengan keadaan basah kuyub karena
hujan lebat. Aku menemukannya ditempat penyimpanan keset dibelakang rumah dan
ia berlumuran darah. Saat itu aku masih tidak menyadarinya. Saat aku coba
menggendongnya seperti biasa, Putih menolak. Tapi lama-kelamaan ia mau juga dan
betapa terkejutnya aku melihat matanya bengkak dan mengeluarkan banyak darah.
Ternyata darah di tubuhnya itu berasal dari matanya. Air mataku tak dapat
kutahan lagi. Aku menangis dan memanggil orang rumah. Mama bilang kalau Putih
sepertinya habis di jaili oleh orang atau matanya tertiban sesuatu yang berat.
Embahku langsung megobati Putih, ia mengoleskan minyak kelapa di sekitar mata
Putih.
Aku menangis
berhari-hari sampai mataku bengkak, aku juga mulai agak mogok makan dan mogok
sekolah, namun itu semua tidak lama, hanya beberapa hari saja. Sungguh aku
menyayangkan kejadian itu. Aku bahkan mendoakan hal-hal buruk terhadap orang
yang telah menyakiti Putih.
Hari pun
berlalu. Mata Putih semakin membaik tidak bengkak seperti dulu. Tapi itu semua
tidaklah lama. Bola mata putih copot. Sekarang putih kehilangan sebelah
matanya. Itu sangat menyakitkan. Apalagi perlakuan dari orang yang memang tidak
menyukainya. Mereka semakin menjadi-jadi dan selalu mengusir Putih. Aku sebal
melihatnya. Memangnya kenapa? Apa mereka tidak kasihan melihat Putih dan malah
menambah beban hidupnya?
Putih
sudah beumur 13 tahun. Saat itu aku sakit keras. Putih menemaniku, ia kucing
yang amat setia. Namun entah mengapa aku merasa sangat sebal terhadapnya. Aku
melemparinya dengan benda-benda yang berada didekatku jika ia mendekat. Namun
entah mengapa Putih seperti selalu menjagaku. Ia tidur didekat kakiku atau pun
diatas tubuhku. Entah mengapa meski saat itu aku sebal terhadapnya, ia masih
mencintaiku.
Kini aku
telah sembuh dari penyakitku. Aku kembali bersekolah. Beberapa hari setelah aku
sekolah, mama meeleponku. Aku merasa khawatir, karena tidak biasanya mama
menghubungiku saat aku sedang berada disekolah. Saat pulang kerumah, mama baru
memberitahuku kalau Putih sudah tiada. Ya ia menghembuskan nafas terakhirnya
ketika aku masih berada disekolah.
Putih
sekarat di kebun depan rumah tetanggaku, lalu dibawa mama kerumah dan di
letakkan dibawah pohon bambu kecil depan rumahku. Tidak lama kemudian ia mati.
R.I.P .
Aku
bingung dengan apa yang kurasakan saat itu. Aku sedih tapi aku tak dapat
mengeluarkan air mataku. Badan putih sudah kaku, kini laler mulai dating
ditubuhnya. Papa melapisinya dengan kain putih sebelum di kubur. Beberapa saat
setelah itu aku baru menangis. Tangisku tak dapat berhenti.
Putih,
jika kau sekarang berada di Surga, maukah kau memaafkanku? Sungguh aku
menyesal…. Maafkan aku yang tak dapat menjagamu dengan baik. Semoga kau senang
dan bahagia Putih… Peluk sayang kakakmu yang sangat menyayangimu dari sini…..
Amelia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar